FacebookInstagramYoutube

Dua Syekh Delegasi Majelis Hukama Internasional Kagum dengan Suasana Ramadan di Aceh

Provinsi Aceh melalui Kementeria Agama Provinsi Aceh pada bulan Ramadhan ini mendapat kesempatan untuk menerima dua delegasi Internasional Majelis Hukama Al-Muslimin yang dipimpin langsung oleh Grand Syekh Al-Azhar, Syekh Ahmad Ath-Thayyib. Organisasi ini merupakan lembaga independen yang beranggotakan cendikiawan muslim dunia yang dinilai memiliki karakter bijak, adil, independen, serta moderat. Lembaga ini juga aktif menyebarkan Manhaj Washatiyah dan menjunjung tinggi perdamaian dunia.

Dua delegasi ini melakukan safari Ramadhan di sejumlah masjid di Banda Aceh dan Aceh Besar sejak 14-23 Maret (3-12 Ramadhan). Selama sepuluh hari tersebut kedua delegasi ini mengisi dengan berbagai seminar keagamaan di sejumlah masjid, dayah, menjadi imam shalat tarawih, hingga mengadakan Daurah Tahsin Al Quran Nasional secara virtual  bagi Penyuluh agama dan Imam di bawah Kanwil Kemenag Aceh.

Pengiriman delegasi ini merupakan kegiatan tahunan yang rutin dilaksanakan. Majelis Hukama al-Muslimin melalui Kementrian Agama Republik Indonesia mengutus dua delegasi terbaiknya untuk menyampaikan dakwah serta bimbingan keislaman lainnya. Dalam hal ini Kemenag Republik Indonesia memberikan salah satu kesempatan ini kepada Kemenag provinsi Aceh sebagai penyelenggara. Selain itu, Kemenag Provinsi Aceh juga menggandeng IKAT Aceh sebagai penanggung jawab berbagai kegiatan yang diselenggarakan.

Dua delegasi yang diutus langsung oleh Majelis Hukama Al-Muslimin tersebut ialah Syekh Ahmad Muhammad Hasan. Ia merupakan alumni jurusan Ilmu Al-Quran Universitas Al-Azhar, sekaligus pemegang sanad Qiraah ‘Asyarah Sugra dan Kurbra dan juga pakar ilmu Syariah. Selanjutnya ada Syekh Sya’ban Abdul Fatah Uweis yang merupakan alumni jurusan Tarbiyah Universitas Al-Azhar membidangi Ilmu Tarbiah. Keduanya merupakan dua ulama muda yang sangat kompeten di bidangnya.

Dalam safari dakwah itu, Kanwil Kemenag Aceh, Drs. Azhari terlihat sangat antusias dengan kedatangan dua delegasi Majelis Hukama al-Muslimin tersebut. Hal itu terlihat dari sambutan hangat serta pendampingan beliau dalam buka puasa bersama, shalat tarawih hingga seminar Kegiatan Tahsin Al-Fatihah yang merupakan program Kanwil Kemenag Aceh kepada seluruh penyuluh dan KUA se Aceh secara hybrid.

Ketua Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh, Tgk. Khalid Mudatstsir, mengungkapkan rasa syukurnya atas terpilihnya Aceh sebagai salah satu dari tujuh provinsi yang menjadi tujuan delegasi Al-Azhar dan Majelis Hukama al Muslimin bekerja sama dengan Kemenag Republik Indonesia. Ia juga mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan Kementrian Agama Aceh kepada IKAT Aceh sebagai penanggung jawab dalam rangkaian kegitan tersebut.

“Terima kasih juga kami ucapkan kepada Kanwil Kemenag Aceh dan Majelis Hukama Muslim. Ke depan insya Allah Aceh siap menerima delegasi-delegasi lainnya untuk menyebarkan Islam Washatiyah (moderat) di Nanggroe Aceh Darussalam,” kata Tgk. Khalid Mudatstsir.

“Alhamdulillah respon masyarakat luar biasa atas kehadiran 2 guru-guru kita ini. Kedua memang memiliki kapasitas keilmuan yang sangat luar biasa.” tambahnya saat diwawancara.

27. aa
Peserta Seminar dan Tahsin Alfatihah memenuhi Laboratorium LAN RI, Aceh. (Foto: @fikriaslami)

Ustaz Fitra Ramadhani selaku penerjemah Syekh juga menyampaikan rasa takjub kepada kedua delegasi yang diutus oleh Al-Azhar dan Majelis Hukama Al-Muslimin.

“Kedua Syekh tersebut sangat kuat hafalan Al-Qurannya, apalagi syekh Ahmad yang merupakan pemegang 10 sanad Qiraat Al-Quran. Dan pada Syekh Sya’ban juga saya menemukan banyak hikmah-hikmah di dalam kalam beliau,” kata Ustaz Fitra yang juga merupakan Sekjen IKAT Aceh tersebut.

30 IMG 1739 scaled
Peserta mendapat kesempatan menyetorkan langsung bacaan Al Fatihah pada sesi interaktif (Foto: @fikriaslami)

Sementara itu, Ustaz Mujtahid salah satu anggota IKAT Aceh yang juga mendampingi delagasi Majelis Hukama Al-Muslimin, menyampaikan bahwa kedua syekh sangat takjub melihat suasana Ramadhan di Aceh, terutama kondisi shalat tarawih yang diselingi oleh doa-doa dan shalawat. Hal tersebut mengingatkan keduanya dengan kondisi shalat tarawih di pedesaan Mesir.

“Syekh juga merasa takjub dengan adat ‘peumulia jame’ kita di sini. Sampai syekh berkesimpulan orang Aceh adalah orang yang baik dan murah hati,” kata Ustaz Mujtahid.

“Saat saya mendapat kabar akan diutus ke Indonesia saya bersujud syukur, karena saya sudah bermuamalah dengan mahasiswa Indonesia di Mesir selama 6 tahun. Saya merasa tidak asing berada di Aceh. Saat saya sampai ke Aceh pun, saya merasa tidak asing. kami disambut dengan sangat baik oleh masyarakat dan IKAT Aceh di sini. ini sudah seperti negri saya sendiri”  tambah syekh Ahmad langsung disela-sela ceramahnya.

Hampir selalu ketika menyampaikan tausiah kedua syekh selalu menekankan keutamaan Al-Quran yang kemudian mengaitkannya dengan bulan suci Ramadan.

“Ramadan mendidik manusia dari dalam, Al-Quran menjadi pedoman hidup secara lahir dan batin. Sehingga orang yang membaca Al-Quran di bulan suci Ramadan, hatinya akan bersih dan mudah menerima kebaikan. Selain pentingnya menghafal Al-Quran, kualitas bacaan Al-Quran serta hukum-hukum tajwid juga sangat perlu diperhatikan,” jelas Syekh Sya’ban dalam salah satu tausiahnya.

Masyarakat terlihat antusias di setiap masjid dan kegitan yang diselenggarakan. Para jamaah yang hadir dalam berbagai ceramah dan berbagai agenda dakwah pun tidak luput untuk meminta foto bersama kedua syekh

Dua delegasi Al-Azhar dan Majelis Hukama Al-Muslimin ini mengakhiri agenda dengan Seminar Al-Quran dan Tahsin Surat Al-fatihah sebelum akhirnya bertolak ke provinsi lain pada hari Sabtu (23/03) melalui Bandara Sultan Iskandar Muda. []

Reporter: Annas Muttaqin

Editor: Farhan Jihadi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
TERBARU

INFO TIMTENG

BERITA POPULAR