Angin musim dingin berembus pelan menyusuri jalanan Kota Kairo. Suhu yang menurun membuat jaket, syal, dan mantel menjadi pemandangan lazim di sudut-sudut ibu kota Mesir. Namun di kawasan New Cairo, tepatnya di Egypt International Exhibition Center (EIEC), dingin seolah tak berdaya. Ribuan manusia berbondong-bondong datang, memenuhi lorong-lorong pameran buku raksasa: Cairo International Book Fair (CIBF) ke-57.
Di tengah udara dingin yang menusuk, pameran buku ini justru menghadirkan kehangatan lain—kehangatan gagasan, bacaan, dan perjumpaan intelektual lintas bangsa. Tak berlebihan jika CIBF dikenal sebagai pameran buku terbesar kedua di dunia setelah Frankfurt Book Fair, sekaligus yang terbesar di kawasan Timur Tengah dan Afrika.
Pada edisi ke-57 ini, Cairo International Book Fair mengusung tema:
مَنْ يَتَوَقَّفُ عَنِ الْقِرَاءَةِ سَاعَةً، يَتَأَخَّرُ قُرُونًا
“Siapa yang berhenti membaca satu jam, akan tertinggal berabad-abad”.
Tema tersebut menjadi pesan moral sekaligus pernyataan sikap: bahwa membaca adalah fondasi peradaban, dan literasi adalah cara manusia melawan kemunduran, bahkan di tengah dinginnya zaman.
Kemegahan Pameran Buku Raksasa Dunia
Cairo International Book Fair ke-57 diikuti oleh ribuan penerbit dari puluhan negara—mulai dari negara-negara Arab, Asia, Eropa, hingga Afrika. Rak-rak buku menjulang tinggi, memamerkan karya sastra, buku akademik, literatur anak, riset ilmiah, hingga kitab-kitab klasik Islam. Bahasa Arab, Inggris, Prancis, dan berbagai bahasa dunia terdengar bersahutan di setiap lorong.
Lebih dari sekadar pameran jual beli buku, CIBF adalah festival intelektual. Ratusan agenda digelar setiap hari: diskusi ilmiah, bedah buku, seminar kebudayaan, dialog pemikiran Islam kontemporer, hingga pertemuan sastrawan lintas negara. Yang membuatnya khas, seluruh kemegahan ini tetap inklusif dan merakyat, dengan harga buku yang relatif terjangkau bagi semua kalangan.
Tak heran, keluarga, mahasiswa, hingga anak-anak tampak larut memilih buku—menjadikan CIBF sebagai ruang edukasi publik sekaligus rekreasi intelektual.
Naguib Mahfouz dan Ingatan Kolektif Kairo
Suasana reflektif musim dingin Kairo semakin terasa dengan diangkatnya Naguib Mahfouz sebagai Personality of the Year pada CIBF ke-57. Sastrawan legendaris Mesir peraih Nobel Sastra 1988 ini dikenal luas sebagai penulis yang merekam denyut kehidupan masyarakat Kairo: dari gang-gang sempit, konflik sosial, hingga pergulatan batin manusia modern.
Penghormatan kepada Mahfouz bukan sekadar perayaan masa lalu, melainkan pengingat bahwa karya sastra memiliki daya hidup lintas zaman. Di tengah dinginnya udara, karya-karyanya seakan menghangatkan kesadaran bahwa membaca adalah cara memahami realitas, merawat empati, dan menjaga ingatan kolektif sebuah bangsa.
Untuk kategori literatur anak, CIBF ke-57 juga memberi penghormatan kepada Mohieddin El-Labbad, ilustrator dan seniman visual terkemuka Mesir, sebagai penegasan bahwa literasi visual dan imajinasi anak merupakan bagian penting dari masa depan peradaban.
Baca juga: IKAT Aceh Berangkatkan 181 Camaba ke Al Azhar – Kairo
Ciri Khas: Pusat Literasi Arab dan Islam Dunia
Salah satu keunggulan utama Cairo International Book Fair adalah posisinya sebagai pusat literasi Arab dan Islam dunia. Kitab-kitab turats—tafsir, hadis, fikih, ushul fikih—tersedia berdampingan dengan karya pemikiran Islam kontemporer, filsafat, hingga sastra modern.
Bagi mahasiswa internasional, termasuk ribuan mahasiswa Indonesia di Mesir, CIBF menjadi momentum penting untuk melengkapi referensi akademik. Tidak sedikit pengunjung yang pulang dengan koper berisi buku, seolah ingin membawa pulang kehangatan ilmu untuk menghadapi dinginnya perjalanan intelektual ke depan.
Stan Indonesia: Diplomasi Budaya di Musim Dingin Kairo
Di tengah keramaian stan internasional, Stan Indonesia tampil sebagai bagian dari diplomasi budaya dan pendidikan. Stan ini merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Agama Republik Indonesia dan KBRI Kairo, yang secara konsisten menghadirkan wajah Islam Indonesia yang moderat, inklusif, dan berakar kuat pada tradisi keilmuan.

Beragam koleksi buku keislaman, terjemahan Al-Qur’an, literatur pesantren, karya akademik, serta publikasi kebudayaan Indonesia dipamerkan. Stan ini menjadi ruang perjumpaan gagasan—tempat dialog antara mahasiswa, akademisi, dan pengunjung internasional yang ingin mengenal khazanah keilmuan Islam Nusantara.
Di tengah dinginnya Kota Kairo, Stan Indonesia menghadirkan kehangatan lain: kehangatan identitas, persahabatan, dan kontribusi Indonesia dalam percakapan intelektual global.
Buku, Dingin, dan Harapan Peradaban
Cairo International Book Fair ke-57 kembali membuktikan bahwa buku tetap menjadi penjaga peradaban. Musim dingin boleh menyelimuti Kairo, tetapi lorong-lorong pameran dipenuhi diskusi, tawa, dan percakapan bermakna.
Dengan tema yang kuat, penghormatan kepada tokoh sastra dunia, partisipasi negara-negara lintas benua, serta kehadiran Indonesia di dalamnya, CIBF bukan sekadar pameran buku. Ia adalah ruang di mana manusia melawan beku—beku pikiran, beku empati, dan beku sejarah—melalui halaman-halaman yang terus dibaca.
Redaktur: Muhammad Arief Munandar
Editor: Annas Muttaqin


