Mutiara Cinta Syekh Hisyam Kamil di Dayah Darussalam Labuhan Haji

04. WhatsApp Image 2023 10 01 at 07.26.11 scaled

Selasa pagi (12/9) tiga mobil asing tampak terparkir di halaman masuk Dayah Darussalam, Labuhan Haji. Terik matahari pagi menjelang siang memancar tanpa ada maaf. Sahut- menyahut shalawat yang keluar dari mulut-mulut para santri Dayah Darussalam Labuhan Haji menjadi penyejuk jiwa. Tak lama kemudian, Seorang Syekh berperawakan tinggi keluar dari Mobil Rush Putih, dengan jubah (kalkula) khas Al Azhar. Para murid dan orang yang mengenal beliau biasa akrab menyapa beliau dengan panggilan “Syekh Hisyam Kamil”. Setelahnya diikuti rombongan Safari Dakwah IKAT Aceh. Para rombongan lansung diarahkan menuju ruang Pimpinan Pesantren. Para tetua dan pemuka Dayah Darussalam Labuhan Haji  menyambut rombongan dengan senyuman dan pelukan penuh persaudaraan. Asap mengepul di atas meja tamu, kopi menjadi jamuan selamat datang yang paling hangat pagi  itu.

Selesai menerima sambutan langsung dari Abi Hidayat selaku salah satu pimpinan Pesantren Darussalam Labuhan Haji, rombongan dipersilakan menziarahi komplek pemakaman Abuya Muda Waly Alkhalidy, bapak Pendidikan Aceh. Ustaz. Ivan Wahyudi, Mudir makhad Ali Darussalam tak lupa memperkenalkan sosok-sosok mulia yang bersemayam di balik nisan-nisan komplek pemakaman. Dalam ziarahnya tersebut, Syekh beserta para rombongan turut berdoa seraya bertawassul pada pemilik makam.

04.WhatsApp Image 2023 10 01 at 07.26.19 scaled
Foto: Suasana jamuan kedatangan rombongan Dakwah Syekh Hisyam kamil (arsip IKAT Aceh)

Selesai menziarahi komplek makam keluarga Abuya Muda Waly, Syekh beserta para rombongan dipersilakan menuju masjid untuk mengisi kajian yang bertemakan “ Pendidikan Tasawwuf dan Implementasinya dalam Kehidupan Sehari-Hari”. Gema Shalawat bersahutan sepanjang jalan menuju masjid. Para santri dan mahasantri Pesantren Darussalam Labuhan Haji, dengan antusias menyambut rombongan Safari Dakwah Syekh Hisyam kamil.

Seminar tersebut dibuka dan juga dimoderatori langsung Ustaz Ivan Wahyudi. Dalam kata-kata sambutannya, beliau mengatakan rasa kehormatannya atas kunjungan Sykeh Hisyam Kamil ke Pesantren Darussalam, Labuhan Haji. Beliau juga mengingatkan  kepada seluruh santri bahwa kesempatan tersebut merupakan kesempatan yang sangat langka, untuk itu beliau meminta agar para santri menyimak dengan seksama pemaparan dari syekh seputar ilmu  Tasawwuf.

04.WhatsApp Image 2023 10 01 at 07.26.17 scaled
Foto: ziarah Rombongan safari Dakwah ke komplek makam Syekh Abuya Muda Wali dan Keluarga (Arsip IKAT Aceh)

Hadzihi furshah, Furshah ghaliyah” (ini adalah kesempatan yang mahal) ungkap beliau.

Selanjutnya dalam seminar tersebut, Syekh membuka pembahasannya dengan melempar pertanyaan

Antum Naqsyabandi wala Wahhabiyah?” (Kalian pengikut imam Asy’ariy atau Wahabi?”

Naqsyabandi!” jawab hadirin serempak

Naqsyabandiy wala muslim?” lanjut Syekh

“Muslim” Jawab para Hadirin lagi dengan serempak

Indunisiy wala Aceh?” lanjut beliau lagi

“Aceh!” wajab para santri dengan serempak

Nahdhatul Ulama wala Muhammadiyah

Nahdhatul Ulamaa!” jawab serempak para hadirin

“Saya Muhammadiyah” lanjut Syekh dengan Bahasa Indonesia seraya bercanda sambil menisbahkan dirinya sebagai pengikut Nabi Muhammad.

Jawaban tersebut pun sontak memancing tawa para hadirin. Syekh Hisyam Kamil sendiri memang sosok pengajar yang selalu senang melempar candaan. Dalam berbagai kajian yang beliau asuh, beliau bahkan tak segan-segan mencandai murid-muridnya.

Setelah melihat suasana mulai mencair, syekh membuka pembahasan dengan membahas asal-muasal kata “tasawwuf” dan menceritakan esensi (inti) taswwuf dari masa Rasullullah Saw. hingga masa Syekh At Thariqah, Syekh Juna

 

id Al Baghdadi. Seraya menjelaskan perkembangan istilah dan praktik tasawuf, beliau juga menceritakan kisah Abi Dzar Al Ghifari dan Sayyidina Ali R.a dalam mempraktikkan makna tasawuf dengan cara yang berbeda-beda.

Lebih lanjut, beliau juga mengatakan, lekatnya para sahabat dengan nilai-nilai tasawuf juga berangkat dari sabda baginda Nabi Saw. “Izhad fid dunya yuhibbukallah, wajhad fima ‘indannas yuhibbukannas” (jagalah jarak dengan dunia maka Allah akan mencintaimu, dan jagalah jarak dengan sesuatu yang dicintai manusia , maka mereka pula akan mencintaimu.)

“Kendati demikian, dalam praktiknya zuhud tidak berarti seseorang tak boleh memiliki harta, bukan juga menghabiskan harta yang kita punya kepada yang lain tanpa membutuhkannya sedikitpun, bukan! Suka menggunakan busana lusuh, bahkan terkesan tidak mencintai keindahan, bukan! Zuhud tidak hanya dimiliki oleh orang miskin.”

“Namun sebagaimana doa yang pernah dipanjatkan Nabi Saw. ‘Ya Allah jadikan harta yang kami miliki di tangan kami saja, bukan di hati kami’ inilah zuhud yang dipraktikkan oleh para sahabat dan tabi’-tabiin tempo dulu” lanjut syekh meluruskan pemahaman tasawwuf yang sering disalah pahami.

04WhatsApp Image 2023 10 01 at 07.26.21 scaled
Foto: Seminar Syekh Hisyam Kamil (arsip IKAT Aceh)

Selain itu beliau juga mengatakan bahwa tidak sedikit para sahabat yang terkenal dengan kekayaannya namun juga hidup dalam kezuhudan. Tak Hanya para sahabat, para ulama yang terkenal dengan nilai-nilai Tasawwufnyapun tak sedikit yang juga terkenal dengan kekayaan hartanya, beliau juga memberi Contoh Imam Syadzili, salah satu pemuka tariqah dalam lmu Tasawwuf.

Beliau juga menegaskan langsung bahwa, mereka yang hari ini secara tak berdasar mengatakan bahwa praktik Tasawuf adalah praktik yang bertentangan dengan Al Quran dan Sunnah, kelak di akhirat akan diminta pertanggung jawaban dan dihisab atas penghakimannya tersebut. Syekh juga menegaskan kendati nilai-nilai tasawwuf telah lebih dulu dipraktikkan sebelum kata “tasawwuf” sendiri muncul, namun pada praktiknya, tasawwuf juga harus berlandaskan Al Quran dan Sunnah.

Para hadirin yang langsung mendengar pemaparan syekh terkait tasawwuf terlihat sangat khidmat mendengar tersebut. Bahkan saat sesi tanya jawab berlangsung, para hadirin berlomba-lomba mengacungkan tanggannya demi mendapat giliran langsung bertanya. Namun lantaran keterbatasan waktu, kesempatan bertanya hanya diberikan kepada lima santri dan mahasantri.

Setelah seminar selesai Syekh dan para rombongan safari dakwah dipersilakan untuk menuju kantor pimpinan guna menyantap hidangan makan siang dan berkeliling meilihat berbagai peninggalan dan dokumentasi perjalanan Sejarah Dayah Darussalam Labuhan Haji dari masa kemasa. Tak lupa, disertasi doktoral menomental yang ditulis lansung oleh tangan Syekh Abuya Muda Waly, bapak Pendidikan  Aceh  juga turut diperlihatkan.

Usai berkeliling singkat, Syekh dan para rombongan Safari Dakwah langsung dipersilakan menyantap hidangan makan siang. Aneka santapan khas Aceh pun dihidangkan dihadapan Syekh dan rombongan, mulai dari gulai, ikan bakar, hingga masakan local khas Aceh Barat. Hembusan sejuk angin pedesaan menjadi teman makan paling akrab siang itu. Tak lupa berbagai canda dan diskusi ringan menambah nikmat ukhwah persaudaraan yang mengisyaratkan bahwa Dayah Aceh dan Al Azhar bagai dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.

Di luar kantor, para santriwati dengan antusias menunggu Syekh Hisyam menyelesaikan jamuan makan siang. Mereka yang sejak tadi hanya bisa melihat sosok Syekh dari barisan belakang Masjid, kali ini berharap mendapat kesempatan langsung menatap sosok sang guru yang sejak lama hanya mengenalnya lewat telinga. Buku tulis dan pulpen ditangan merekatak sabar merekam sebuah tanda tangan langsung dari sosok yang telah menulis pulahan buku.

Benar saja, saat syekh keluar beberapa dari mereka bahkan tak bisa membendung air matanya. syekh yang melihat para Santriwati tersebut antusiah menunggu kemudian datang menghampiri seraya menyapa, memberikan tanda tangan beliau, bahkan memberikan handuk kecil yang biasa beliau kantongi. Merekapun bahagia bukan main. Pada beberapa santri lain yang mengenakan kacamata syekh juga bercanda manis dengan menyentuh kacamata mereka. Selesai menyapa para santri yang telah menunggu beliau, para rombonganpun berpamitan dan beranjak melanjutkan perjalanan safari dakwah ke beberapa pesantren, sebelum syekh kembali ke Mesir.

Demikan sosok syekh Hisyam Kamil dengan mutira cinta yang beliau bawa kemana-mana. Semuanya terpancar dari kalam dan budi beliau yang moderat. Tak hanya berwawasan luas dan memiliki puluhan karangan buku, beliau juga senantiasa bersikap manis pada siapapun yang beliau jumpai. Sosok dermawan yang rela mewaqafakan apa saja yang beliau miliki demi berdakwah di jalan Allah.[]